Penyu adalah kura-kura laut yang mampu menjelajahi dunia dengan 4 sirip kakinya, sehingga populasi mereka tersebar di seluruh samudera. Indonesia menjadi salah satu habitat bertelur beberapa spesies penyu di dunia, karena perairan Indonesia menjadi rute perpindahan (migrasi) Penyu . Spesies penyu yang terdapat di perairan Indonesia yakni Penyu Sisik (Eretmochelys imbricate), Penyu Hijau (Chelonia mydas), Penyu Lekang (Lepidochelys olivacea), Penyu Tempayan (Caretta caretta), Penyu Pelimbing (Dermochelys coriacea), dan Penyu Pipih (Natator depressus).
Dengan meningkatnya polusi di perairan Samudra membuat kualitas habitat penyu menjadi menurun yang mengakibatkan penurunan drastis populasi penyu di seluruh dunia. Perburuan liar juga turut menyumbang penurunan populasi penyu karena masih banyaknya konsumsi daging penyu. IUCN (International Union for Conservation of Nature) kemudian memasukan penyu sebagai salah satu satwa yang dilindungi.
The American Tortoise Rescue kemudian juga menggalang partisipasi untuk meningkatkan rasa kepedulian masyarakat terhadap keberadaan penyu dengan merayakan hari penyu se-dunia pada tanggal 23 Mei. Tanggal tersebut dipilih sebagai hari untuk memperingati Hari Penyu Sedunia, sebab bulan Mei merupakan waktu tersibuk bagi daur hidup penyu.
Sebagai lembaga konservasi terbesar di Bali yang fokus pada konservasi satwa liar, Bali Safari selalu berpartisipasi aktif dalam segala kegiatan Balai Konservasi dan Sumber Daya Alam (BKSDA) Bali. BKSDA Bali merupakan Unit Pelaksana Teknis (UPT) Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE), Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. BKSDA Bali menjadi partner lembaga konservasi dalam kegiatan konservasi satwa seperti penyelamatan dan perlindungan satwa, serta pendampingan kegiatan konservasi, mereka menitipkan penyu di Bali Safari yang diperoleh dari hasil sitaan perburuan liar di tahun 2015. Selama dititipkan di Bali Safari, penyu tersebut dipersiapkan agar dapat dilepasliarkan kembali ke lautan lepas.
Setiap harinya penyu tersebut diberikan pakan alami secara rutin dan normal seperti rumput laut dan ikan sarden, kolamnya juga diberikan arus sehingga penyu dapat berlatih seperti berada di perairan laut, kondisinya pun selalu dipantau oleh keeper (perawat satwa), dokter hewan dan asisten curator.
“Sebelum penyu tersebut siap dilepasliarkan, serangkaian kegiatan pemantauan dilakukan seperti pemasangan microchip, pengecekan darah, serta kondisi fisik penyu. Segala hal tersebut dilakukan sebagai langkah untuk mempersiapkan penyu agar mampu bertahan dan berkembangbiak dengan baik di lautan lepas.”Ujar drh. Syahrial Kurnia Bimantaka sebagai salah satu tim medis Bali Safari,”Setelah melewati serangkaian proses, monitoring dan berdiskusi dengan BKSDA , tepat di hari minggu ini, 23 Mei 2021, penyu-penyu tersebut siap dilepasliarkan di Pantai Cucukan, Gianyar, Bali. Dua jenis penyu yang dilepasliarkan adalah Penyu Hijau (Chelonia mydas) dan Penyu Sisik (Eretmochelys imbricate).” Tambahnya.

Minggu, 23 Mei 2021. Dalam rangka memperingati Hari Penyu Sedunia, Hari Konservasi keanekaragaman hayati dan road to hkan. Bali Safari bersama BKSDA Bali dan Polsek Blahbatuh beserta masyarakat setempat melepasliarkan 2 (dua) ekor penyu di Pantai Cucukan, Kabupaten Gianyar